0882-7674-5835
Selamat datang di Palembang, kota tertua di Indonesia yang bukan hanya kaya sejarah, tetapi juga kaya rasa, budaya, dan pesona alamnya. Sebagai local tourist guide yang sudah puluhan kali menemani tamu domestik hingga mancanegara, izinkan saya membawa Anda menjelajahi 35 destinasi wisata yang layak dikunjungi.
Dari landmark ikonik, kuliner melegenda, hingga spot Instagramable, inilah daftar wajib bagi siapa pun yang ingin mengenal jantung budaya Sumatra Selatan.
Tidak sah ke Palembang tanpa berfoto di depan Jembatan Ampera, ikon kota yang membentang di atas Sungai Musi. Di malam hari, lampu warna-warni menambah romantis suasananya. Pastikan Anda berkunjung saat senja!
Jembatan Ampera, yang merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat, dibangun pada masa Presiden Soekarno. Peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1962, dan jembatan ini diresmikan pada 30 September 1965. Proyek ini menjadi simbol pembangunan nasional dan kebangkitan semangat rakyat Palembang pasca kemerdekaan.
Menariknya, dana pembangunan jembatan ini sebagian besar berasal dari bantuan dana perang Jepang (reparasi perang). Maka tak heran jika teknologi awal jembatan ini banyak melibatkan insinyur Jepang.
Jembatan Ampera awalnya didesain sebagai jembatan angkat (lift bridge). Artinya, bagian tengah jembatan bisa dinaikkan ke atas agar kapal besar dapat lewat di bawahnya. Mekanisme ini didukung oleh dua menara penyangga setinggi 63 meter, dengan sistem counterweight (penyeimbang berat) dan kabel baja sebagai pengangkat.
Namun, sejak tahun 1970, fungsi pengangkatan dihentikan karena:
Aktivitas lalu lintas darat yang semakin padat
Waktu operasional pengangkatan terlalu lama
Kebutuhan efisiensi arus kendaraan
Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai jembatan angkat, struktur menara dan desain khasnya tetap dipertahankan dan menjadi ciri khas Palembang hingga kini.
Secara strategis, Jembatan Ampera menghubungkan dua wilayah utama Palembang:
Seberang Ulu (bagian selatan kota)
Seberang Ilir (bagian utara, pusat pemerintahan dan perdagangan)
Ini menjadikan Jembatan Ampera sebagai urat nadi transportasi dan ekonomi. Setiap hari, puluhan ribu kendaraan melewati jembatan ini, menjadikannya salah satu jalur tersibuk di Sumatera Selatan.
Warna merah menyala pada jembatan Ampera memberikan kesan kuat, tegas, dan membara — mencerminkan semangat masyarakat Palembang.
Di malam hari, jembatan ini diterangi lampu LED berwarna-warni yang terus berganti, menjadikannya salah satu spot foto malam terbaik di kota ini.
Jembatan ini sering muncul di logo, stiker, dan produk khas Palembang — menjadikannya simbol budaya dan identitas visual kota.
Jembatan Ampera dikelilingi banyak tempat wisata dan fasilitas publik, seperti:
Benteng Kuto Besak
Masjid Agung Palembang
Alun-Alun Plaza Benteng
Dermaga wisata Sungai Musi
Pasar 16 Ilir (pusat oleh-oleh dan kuliner)
Sehingga wisatawan bisa menjadikan Jembatan Ampera sebagai pusat penjelajahan kota.
Waktu terbaik berkunjung: Senja hingga malam hari. Langit jingga berpadu dengan siluet jembatan memberikan pemandangan yang luar biasa.
Spot foto terbaik: Dari pinggiran Benteng Kuto Besak atau dari atas perahu ketek yang menyusuri Sungai Musi.
Catatan penting: Hindari jam sibuk pagi dan sore jika ingin lewat menggunakan kendaraan karena padatnya arus lalu lintas.
Dahulu, nama awal jembatan ini adalah Jembatan Musi.
Panjang total jembatan mencapai 1.117 meter, dengan lebar 22 meter.
Bagian tengah yang bisa terangkat sepanjang 71.90 meter.
Menjadi inspirasi dalam banyak lagu daerah, lukisan, dan produk seni khas Palembang.
Jembatan Ampera bukan hanya struktur baja dan beton. Ia adalah saksi bisu perjuangan, pembangunan, dan semangat masyarakat Palembang. Ia menyatukan sejarah dan masa depan, budaya dan mobilitas, menjadi ikon yang terus hidup dalam denyut nadi kota ini.
Kalau kamu ke Palembang, jangan pulang sebelum menikmati pemandangan dari Jembatan Ampera. Bukan sekadar tempat lewat, tapi tempat merasakan denyut kehidupan kota yang kaya budaya dan cerita.
Benteng ini bukan hanya bangunan tua, tapi saksi sejarah dari masa Kesultanan Palembang. Terletak di tepi Sungai Musi, area ini juga populer sebagai tempat nongkrong sambil menikmati pemandangan malam.
Benteng Kuto Besak (BKB) dibangun pada abad ke-18, tepatnya mulai dikerjakan tahun 1780 dan selesai pada 1797 di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama, penguasa Kesultanan Palembang Darussalam. Pembangunan benteng ini menggantikan istana lama Kesultanan yang sebelumnya berada di kawasan Kuto Lama.
Nama “Kuto” berarti kota atau benteng, dan “Besak” berarti besar dalam bahasa Palembang. Jadi, Kuto Besak secara harfiah berarti “Benteng Besar”.
Benteng ini memiliki bentuk persegi empat yang menghadap ke Sungai Musi, dengan ukuran sekitar 288,75 meter x 183,75 meter, dan tinggi dinding 9,99 meter, ketebalan sekitar 1,99 meter.
Beberapa ciri khas dan keunikan arsitekturnya:
Dibangun dari batu kapur dan putih telur sebagai bahan perekat, khas konstruksi zaman dulu.
Di keempat sudut benteng terdapat bastion (menara penjagaan) untuk mengintai musuh.
Benteng ini memiliki gerbang utama di sisi timur, yang dahulu menjadi pintu masuk utama bagi pejabat atau tamu kerajaan.
BKB bukan hanya simbol kekuasaan, tapi juga benteng pertahanan Kesultanan dari serangan Belanda dan bajak laut yang kerap melintasi Sungai Musi. Selain itu, BKB juga menjadi:
Kediaman resmi Sultan
Kantor administrasi kerajaan
Tempat penyimpanan senjata dan mesiu
Tempat pelaksanaan pertemuan adat dan keagamaan
Setelah jatuhnya Kesultanan pada awal abad ke-19, benteng ini sempat dijadikan markas militer oleh kolonial Belanda.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, BKB menjadi markas Kodam II/Sriwijaya, dan sampai hari ini masih digunakan sebagai instalasi militer aktif. Karena itulah, akses ke bagian dalam benteng sangat terbatas bagi masyarakat umum.
Namun, area sekitar luar benteng dijadikan ruang publik dan destinasi wisata yang ramai, terutama di sore hingga malam hari.
Benteng ini terletak di jantung Kota Palembang, tepat di tepi Sungai Musi. Beberapa landmark yang berada dekat BKB:
Jembatan Ampera (berjarak hanya sekitar 300 meter)
Masjid Agung Palembang
Alun-Alun Plaza Benteng
Pelataran sungai dan dermaga wisata
Area sekitar benteng juga menjadi pusat kegiatan seni, musik, dan pertunjukan rakyat terutama saat Festival Sungai Musi atau Festival Sriwijaya berlangsung.
Meskipun bagian dalam benteng tidak bisa dimasuki secara bebas, pengunjung masih bisa menikmati berbagai kegiatan menarik di sekitarnya:
Pelataran benteng jadi spot Instagramable, terutama saat sore hari dengan pemandangan Jembatan Ampera di belakang.
Pemandangan matahari terbenam dari tepi sungai dengan siluet benteng sangat memukau.
Dermaga dekat benteng menyediakan perahu wisata yang bisa membawa Anda menyusuri Sungai Musi, Pulau Kemaro, dan kawasan pemukiman air.
Di sekitar benteng, terutama di pelataran Alun-Alun BKB, tersedia aneka kuliner khas Palembang seperti pempek, tekwan, laksan, dan jajanan malam lainnya.
BKB adalah simbol kejayaan masa lalu, yang menunjukkan bahwa Palembang pernah menjadi kekuatan politik dan ekonomi besar di Sumatra dan Nusantara. Ia juga menjadi titik awal untuk memahami:
Sistem pemerintahan Kesultanan Palembang
Strategi pertahanan kota pada masa pra-kolonial
Akulturasi budaya Melayu, Arab, Tionghoa, dan Eropa di Palembang
Beberapa sekolah dan rombongan wisata edukasi menjadikan benteng ini sebagai lokasi studi sejarah lapangan.
Merupakan satu-satunya benteng di Indonesia yang dibangun oleh pribumi (bukan Belanda) dan masih berdiri kokoh hingga kini.
Nama-nama seperti Kuto Lama dan Kuto Batu di Palembang berasal dari tradisi pemberian nama kawasan berdasarkan benteng atau kota tua.
Ada cerita rakyat yang menyebutkan adanya terowongan bawah tanah yang menghubungkan BKB dengan beberapa lokasi penting di kota, meski belum terbukti secara ilmiah.
Pernah menjadi tempat penyiksaan dan eksekusi saat masa penjajahan.
Waktu terbaik: pagi hari atau sore menjelang sunset
Bawa kamera untuk foto-foto di pelataran sungai dan Jembatan Ampera
Tidak bisa masuk ke area dalam benteng karena zona militer aktif
Bisa digabungkan dengan kunjungan ke Masjid Agung dan Pasar 16 Ilir
Menyusuri Sungai Musi dengan perahu tradisional (ketek) adalah pengalaman tak terlupakan. Anda bisa melihat rumah-rumah panggung, aktivitas nelayan, dan spot-spot ikonik dari sisi sungai.
Berdiri megah dekat Benteng Kuto Besak, masjid ini memadukan gaya Tiongkok, Eropa, dan Melayu. Tempat ini sering dikunjungi wisatawan muslim dan menjadi pusat kegiatan religi.
Masjid dengan arsitektur khas Tionghoa ini menjadi simbol toleransi antar umat beragama. Terletak di Jakabaring, warnanya yang mencolok menjadikannya spot foto favorit.
Berjalan di lorong sempit yang penuh rumah kuno kayu jati dan mendengar percakapan berbahasa Arab Melayu dari penduduk lokal, Anda akan merasa seperti berada di masa lalu yang hidup.
Sebuah pemukiman yang mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa dan Palembang. Rumah-rumah tua di pinggir sungai ini menyimpan sejarah panjang tentang Kapitan Tionghoa zaman dulu.
Museum ini memamerkan peninggalan arkeologi, tekstil, dan budaya Palembang kuno. Termasuk rumah limas besar yang bisa Anda jelajahi.
Museum ini dulunya adalah kediaman resmi Sultan dan kini menampung ribuan koleksi dari masa kejayaan Palembang. Letaknya strategis, tepat di belakang Benteng Kuto Besak.
Monumen berbentuk bunga melati ini adalah penghormatan untuk pejuang kemerdekaan. Di dalamnya terdapat museum kecil dan koleksi senjata.
Pasar ini tidak hanya ramai, tapi juga penuh warna. Mulai dari kain songket, makanan khas, hingga oleh-oleh tersedia lengkap di sini.
Dari Pempek Candy, Pempek Vico, hingga Pempek Lince, semua menyajikan sensasi gurih-garing yang berbeda. Jangan lupa cocol dengan cuko!
Pulau kecil di tengah Sungai Musi ini punya kisah romantis antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Ada vihara, pohon cinta, dan festival Cap Go Meh tiap tahun.
Bekas lokasi Asian Games 2018 ini kini jadi spot jogging, piknik, dan foto. Area ini juga punya danau buatan yang memesona.
Tempat yang cocok untuk liburan keluarga. Ada flying fox, jembatan gantung, dan area edukasi flora-fauna. Adem dan seru!
Meskipun tidak sebesar kebun binatang kota besar, Gandus Zoo jadi pilihan lokal untuk mengenalkan hewan kepada anak.
Konon katanya ini tempat persemayaman raja-raja Sriwijaya. Dikelilingi pepohonan rimbun, tempat ini cocok untuk merenung dan menikmati ketenangan.
Punya jogging track, danau buatan, dan taman bermain anak. Banyak warga lokal bersantai di sini sore hari.
Bayangkan melihat lembaran Al-Qur’an setinggi 2 meter yang diukir di kayu! Sangat menginspirasi dan edukatif.
Proyek revitalisasi sungai ini sukses jadi tempat hangout anak muda. Jalan kecil warna-warni di tepi sungai membuat tempat ini hits di Instagram.
Di sinilah Anda bisa melihat proses tenun songket asli, mencoba mengenakannya, bahkan membeli langsung dari pengrajinnya.
Dari mie celor, martabak HAR, sate padang, sampai durian Palembang — semua bisa ditemukan di sini!
Sepanjang jalan ini, Anda akan menemukan bangunan kolonial, kantor-kantor tua, dan spot mural tersembunyi.
Nikmati matahari terbenam sambil ngopi di tepi Sungai Musi. Cocok untuk chill setelah seharian keliling kota.
Meskipun namanya terdengar unik, tempat ini menyimpan banyak kuliner tradisional dari pagi hingga malam hari.
Bagi pecinta fashion dan budaya, museum ini menyimpan warna-warni sejarah kain Palembang yang kaya makna.
Rumah adat khas Palembang yang penuh ukiran. Anda bisa melihat langsung detail struktur bangunan kayunya.
Kalau ingin cari pempek, kerupuk, kaos Palembang, hingga souvenir khas — di sinilah tempatnya.
Salah satu vihara tertua di Palembang dengan ornamen menarik. Bisa menjadi destinasi spiritual dan budaya sekaligus.
Gabungan mall modern dan wahana air. Cocok untuk keluarga yang membawa anak kecil.
Bukan cuma tempat baca buku, tapi juga spot foto dan ruang kerja sunyi yang disukai pelajar.
Terletak di seberang Pulau Kemaro, klenteng ini jadi saksi hubungan budaya Tionghoa dan lokal yang harmonis.
Cocok untuk rombongan sekolah atau keluarga yang ingin belajar pertanian, hidroponik, dan panen sendiri.
Naik kapal wisata malam hari sambil makan malam dan mendengar musik live? Ya, Palembang punya itu juga.
Banyak wisatawan mengombinasikan kunjungan Palembang dengan trip ke Pagar Alam (4-5 jam). Di sana, Anda bisa menikmati udara pegunungan, air terjun, dan kebun teh.
Palembang bukan sekadar pempek dan Jembatan Ampera. Di balik riuhnya kota, tersimpan cerita, cita rasa, dan pesona yang tak kalah dengan destinasi wisata besar lainnya di Indonesia. Baik Anda turis lokal yang ingin lebih mengenal negeri sendiri, maupun turis mancanegara yang mencari pengalaman autentik, Palembang siap menyambut Anda dengan tangan terbuka.
📍 Jangan lupa simpan daftar ini dan jadikan panduan perjalanan Anda!
📸 Share pengalamanmu dan tag @VisitPalembang di media sosial ya!
Komentar ditutup