Tradisi Mesopotamia Kuno: Pernikahan Tanpa Cinta, Wanita Diperjual Belikan.

Populer Hari Ini

Umumnya kita ketahui bahwa pernikahan merupakan komitmen 2 pribadi untuk hidup bersama dan proses saling menerima satu dengan yang lainnya.

Di Indonesia, hukum pernikahan diatur dalam UU No 1 tahun 1974 pasalnya yang ke 6, dengan salah satu butir point yang menyatakan bahwa pernikahan itu akan sah “jika adanya persetujuan dari kedua belah pihak.”

Namun di Mesopotamia kala itu hal ini bertolak belakang ya.

Pernikahan di Mesopotamia kuno sangatlah penting bagi masyarakatnya karena secara harfiah untuk melanjutkan garis keluarga dan memberikan kedudukan sosial bagi mereka.

Pria dan wanita yang tidak menikah dianggap terkena kutuk dari para dewa (Dewi Inanna/ishtar).

Di Mesopotamia setahun sekali di setiap desa para remaja putri yang sudah memenuhi syarat untuk menikah akan dikumpulkan bersama di satu tempat sementara para pria berdiri di sekitar mereka dengan melingkar.

Lalu sang pemandu akan memanggil para wanita muda itu satu persatu dan menawarkan mereka untuk dijual, biasanya dimulai dari yang paling cantik.

Semuanya dijual untuk dijadikan istri, pria kaya yang ingin menikah saling menawar untuk mendapatkan wanita muda yang disukainya.

Sementara untuk rakyat jelata yang tidak peduli dengan kecantikan menerima wanita yang “tidak cantik” untuk dinikahinya dengan kompensasi uang.

Trending

Artikel Terkait: